Sabtu, 29 Juni 2013

Taqwa Solusi Islam Mengatasi Ekses Modernisasi

Sekarang ini kita tengah berada di dalam era globalisasi dan modernisasi, maka tak ada jalan keluar untuk lari dan selamat dari fitnah ini, tidak ada petunjuk penyelesaian melainkan di ujungnya kesesatan yang menambah kebinasaan, kecuali petunjuk dan jalan keluar yang ditawarkan oleh Al-Islam, yaitu: Taqwa kepada Allah (Redaksi, www.khotbahjumat.com)
Oleh: Taufiqqurrohman
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
Hadirin sidang Jumat rahimakumullah.
Seiring pesatnya perkembangan ilmu dan tekhnologi, cepatnya kemajuan iptek dan derasnya arus informasi yang melanda umat manusia dewasa ini, justru dari satu sisi menimbulkan dampak negatif berupa kerusakan-kerusakan tata nilai kehidupan, kian meningkatnya kriminalitas dengan tindak kekerasan, judi, penyalahgunaan obat terlarang, sarana dan prasarana kemaksiatan semakin mudah didapatkan, dari panti-panti pijat sampai diskotik dan tempat-tempat hiburan kelas tinggi, dari bioskop-bioskop yang ada di dalam rumah sampai foto-foto porno dari artis-artis tak bermoral sampai bintang-bintang film yang bejat akhlaqnya, membuat orang semakin nekat dan berani melakukan maksiat.
Kasus-kasus pembunuhan, pemerkosaan dan perzinaan, hampir terjadi setiap hari, baik yang memenuhi halaman-halaman surat kabar ataupun yang menjadi berita-berita aktual radio dan televisi.
Maka dalam salah satu pernyataannya Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional menyatakan bahwa: “Dalam dua tahun terakhir ini tercatat sebanyak “dua juta” wanita melakukan ABORSI (pengguguran kandung) 750 ribu di antaranya remaja belum menikah. “Dan kalau dibandingkan dengan angka kelahiran pertahunnya maka jumlah “dua juta janin yang mati” karena aborsi tersebut adalah amat sangat luar biasa. Dan jika ini terus diurut, maka jumlah yang akan didapat tentunya akan jauh lebih besar lagi, sungguh penjagalan besar-besaran terhadap cikal bakal umat manusia tengah merajalela, inilah gambaran betapa telah hancurnya moral generasi muda kita, betapa karena mengejar nikmat dunia -yang sekejap mata- kasih sayang seorang bunda berubah menjadi bara api panas yang membakar anak-anaknya.
Inikah modernisasi yang kita idam-idamkan? Inikah globali-sasi yang kita perjuangkan? kerusakannya jauh lebih kita rasakan dari pada kemaslahatan. Jawabnya ialah: modernisasi dengan iptek yang melaju cepat tidak memberikan makna kehi-dupan. Semua menduga modernisasi itu akan membawa kesejahteraan. Mereka lupa dibalik itu ada gejala yang dinamakan The agony of modernisation, yaitu azab sengsara karena modernisasi, seperti kian meningkatnya kriminalitas dengan tindak kekerasan, pemerkosaan, judi, narkotika, kenakalan remaja, prostitusi, bunuh diri, gangguan jiwa, dan berbagai kerusakan lingkungan hidup dan tata nilai kehidupan.
Dan sekarang ini saudara-saudara, kita tengah berada di dalam era globalisasi dan modernisasi tersebut, maka tak ada jalan keluar untuk lari dan selamat dari fitnah ini, tidak ada petunjuk penyelesaian melainkan di ujungnya kesesatan yang menambah kebinasaan, kecuali petunjuk dan jalan keluar yang ditawarkan oleh Al-Islam, yaitu: Taqwa kepada Allah, sebagaimana yang dijanjikan di dalam surat Ath-Thalaq ayat 2 dan 4,
Allah berfirman:
وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا
Barangsiapa bertakwa kepada Allah (Maka Allah) akan mengadakan baginya jalan keluar dari setiap kesulitan.”
Juga firman-Nya:
وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan mengadakan baginya kemudahan dalam setiap urusan.”
Kaum Muslimin sidang Jumat yang berbahagia
Takwa adalah barometer keimanan seorang muslim. Dengan takwa mata hati akan terbuka untuk melihat dan menerima kebenaran serta menolak dan menjauhi kemungkaran. Sebagai-mana firmanNya:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن تَتَّقُوا اللهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan pembeda (antara al-haq dengan al-batil) bagimu.” (QS. Al-Anfal: 29).
Ibnu Katsir berkata pada tafsir ayat ini: “Karena barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, dengan mengerjakan perintah-perintahNya dan meninggalkan larangan-laranganNya niscaya diberi taufik (bimbingan) untuk mengetahui yang hak dari yang batil.
Namun sayang, tidak semua orang yang mengaku Islam ..itu beriman, sebagaimana tidak semua orang yang beriman…itu bertakwa. Kata takwa atau “takut kepada Allah” sering kita dengar bahkan sering meluncur dari lidah kita, seakan menjadi bahasa yang datar tanpa makna. Takut kepada Allah tidak lagi menjadi rasa, tetapi hanya sekedar menjadi bahasa.
Sebagian besar umat manusia, termasuk umat Islam dewasa ini sudah kehilangan rasa takut kepada Allah, kepada ancaman-ancaman yang dahsyat bagi orang-orang yang maksiat, kepada kemungkinan-kemungkinan bahwa diri kita terjerembab dalam azab dunia lebih-lebih siksa kubur dan azab akhirat. Namun justru sebaliknya, sebagian di antara kita cenderung takut kepada orang-orang yang dikeramatkan, jin, setan dan lain-lain.
Diterangkan di dalam kitab Fathul Majid halaman 301 sampai 303 dan al-Qaulus Sadid halaman 116 sampai 117, diterangkan bahwa: Takut semacam ini adalah termasuk dosa besar, tercela bahkan termasuk syirik akbar yang mengeluarkan seseorang dari agama Islam.
Adapun seseorang yang melakukan amalan haram atau meninggalkan amalan wajib karena takut kepada manusia, hal ini termasuk syirik ashghar yang meniadakan kesempurnaan tauhid.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Hibban dan Ibnu Majah yang dishahihkan oleh al-Albani di dalam shahihul jami’ halaman 1814. Rasulullah shalallaahu alaihi wa salam bersabda:
لاَ يَحْقِرَنَّ أَحَدُكُمْ نَفْسَهُ أَنْ يَرَى أَمْرًا لِلَّهِ عَلَيْهِ فِيْهِ مَقَالاً ثُمَّ لاَ يَقُوْلُهُ فَيَقُوْلُ اللهُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَقُوْلَ فِيْهِ فَيَقُوْلُ رَبِّ خَشِيْتُ النَّاسَ فَيَقُوْلُ وَأَنَا أَحَقُّ أَنْ يُخْشَى.
Yang artinya: “Janganlah salah seorang di antara kalian menghinakan dirinya, yaitu jika ia melihat satu perkara yang menjadi hak Allah dan menjadi kewajibannya untuk dibicarakan, kemudian dia tidak membicarakannya. Maka Allah akan bertanya (padanya di hari Kiamat) ‘Apa yang menghalangimu untuk mengatakannya’ Kemudian dia akan menjawab, ‘Rabbku, aku takut kepada manusia’. Maka Allah berkata, ‘Hanya Akulah yang paling berhak engkau takuti’.”
Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah.
Oleh karena itu, di dalam surat Ali Imran ayat 175 Allah berfirman:
إِنَّمَا ذَالِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَآءَهُ فَلاَتَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُمْ مُّؤْمِنِينَ
Yang artinya; “Sesungguhnya itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti kamu dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu jika kamu orang-orang yang beriman.”
Ya… jika kita memang beriman kepada kebesaran Allah, kalau benar kita bertauhid kepada keesaan Allah, mengapa kita perlu ragu bahwa suatu saat nanti Allah akan membangkitkan kita setelah kematian, lalu menghisab amal perbuatan kita sekecil apapun kebaikan dan kejahatan yang pernah kita lakukan di dunia ini. Lalu terhadap orang-orang yang tidak beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan kitab amalannya dari sebelah kiri, maka mereka termasuk orang-orang yang merugi. Na’udzu billah min dzalik.
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya tentang ayat .
ثُمَّ فِي سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَاسْلُكُوهُ
Kemudian masukkanlah ia ke dalam rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.” (QS. Al-Haqqah: 32).
Tentang arti (فاسلكوه): Ibnu Katsir mengemukakan perkataan Ibnu Juraij bahwa Ibnu Abbas berkata: Besi rantai itu dimasukkan dari arah duburnya, lalu keluar melalui mulutnya, kemudian para pesakitan ini ditata dalam besi rantai tersebut seperti belalang yang ditusuk berjajar dengan kayu ketika dipanggang dengan api.
Syaikh al-Allamah Abdur Rahman bin Nasir as-Sa’di seorang tokoh ulama dari Saudi yang wafat pada tahun 1376 H, dalam tafsirnya Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, juz II , tentang ayat tersebut menerangkan bahwa: Mata rantai itu berasal dari Neraka Jahim yang panasnya mencapai puncak panas. Kemudian artinya ialah: susunlah para pesakitan (orang-orang tidak beriman) ini ke rantai tersebut dengan cara: rantai tersebut dimasukkan melalui duburnya hingga keluar dari mulutnya kemudian gantunglah padanya.
Maka orang sengsara ini terus-menerus disiksa dengan siksaan yang sedemikian mengerikan ini, betapa dahsyat siksaan itu terhadap dirinya, betapa menyesalnya dia dengan penghinaan yang sedemikian rupa, sesungguhnya sebab yang menjadikannya sampai pada kedudukan demikian ialah karena:
إِنَّهُ كَانَ لاَيُؤْمِنُ بِاللهِ الْعَظِيمِ
Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar.” (QS. Al-Haqqah: 33).
Ia tidak menunaikan apa yang menjadi hak Allah, tidak bertaqwa dan tidak beribadah kepadanya (Tafsir Ibnu Katsir, IV/536).
Ia kafir kepada Rabbnya, menentang Rasul-Nya dan menolak kebenaran yang dibawa oleh RasulNya tersebut. (Tafsir al-Karim ar-Rahman, juz II).
يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آَمَنُوا اتَّقُواْ اللهَ وَقُولُواْ قَوْلاً سَدِيْدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْازًا عَظِيْمَا. أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khotbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا. أَمَّا بَعْدُ؛
Sidang Jumat rahimakumullah.
Maka demikianlah, orang-orang yang tidak bertakwa kepada Allah tidak hanya akan mendapatkan kesengsaraan hidup di dunia berupa kegelisahan hati, gangguan jiwa dan lain-lain, walaupun mereka berlimpahkan harta dan kemewahan. Tetapi mereka juga akan diazab dan disiksa dengan siksa akhirat yang teramat dahsyat.
Sedangkan sebaliknya orang-orang yang bertaqwa kepada Allah selain akan diberikan jalan keluar dari setiap kesulitan. Dan dimudahkan dalam segala urusan dunianya, mereka juga dijanjikan Surga sebagai tempat kemenangan. Sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا {31} حَدَآئِقَ وَأَعْنَابًا {32} وَكَوَاعِبَ أَتْرَابًا {33} وَكَأْسًا دِهَاقًا {34} لاَّيَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلاَكِذَّابًا {35} جَزَآءً مِن رَّبِّكَ عَطَآءً حِسَابًا {36}
Sesungguhnya untuk orang-orang yang bertakwa ada tempat kemenangan (Surga), kebun-kebun dan buah anggur, dan gadis-gadis remaja yang sebaya, dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman), di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula perkataan) dusta sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak.” (QS. An-Naba’: 31-36).
Hadirin sidang Jumat rahimakumullah.
Maka hanya kepada Allah-lah kita menghadapkan wajah, menyandarkan segala harapan seraya berdoa semoga Ia mencurah-kan limpahan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada kita, untuk bertakwa hanya kepada-Nya, melaksanakan semua perintahNya dan menjauhi segala larangan-Nya, berpegang teguh kepada Kitab-Nya dan sunah-sunah Rasul-Nya dengan pemahaman para sahabat dan pengikut mereka dari kalangan salafus shalih, sehingga kita selamat dari segala fitnah dunia berupa kehancuran moral dan berbagai kesengsaraan dari akibat buruk modernisasi dan globa-lisasi serta tergolong orang-orang yang memperoleh kemenangan di sisi-Nya dan selamat dari azab dan siksa akhirat yang maha dahsyat. Amin.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. أَقِيْمُوا الصَّلاَةَ.
Sumber: http://www.alsofwah.or.id

Tanda-Tanda Cinta Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam

Kewajiban cinta kepada Rasul shallallahu alaihi wa salam, kenapa harus cinta Rasul shallallahu alaihi wa salam?, apa tanda-tanda cinta Rasul shallallahu alaihi wa salam? (Redaksi www.khotbahjumat.com)
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.
Ikhwani fid-din yang dimuliakan Allah.
Jamaah Jumat rahimakumullah, marilah kita kenang, kita ingat kembali, dua sifat agung yang merupakan pangkat dan keagungan khusus bagi umat Islam, bagi hadirin jamaah Jumat, khusus bagi kita yang beriman. Dua sifat itu adalah syukur dan shabar.
Dari saat yang mulia ini dan seterusnya sampai akhir hayat, marilah tetap kita sandang dua sifat itu, “syukur dan shabar”. Dalam kesempatan kali ini, setelah mensyukuri hidayah Iman, Islam dan Taqwa, marilah kita sedikit membahas “Cinta kepada Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Sallam, serta shabar dalam menegakkan sunnah beliau.
Saat ini, di tengah-tengah masyarakat sedang marak berbagai aktivitas yang mengatasnamakan cinta Rasul shallallahu alaihi wa sallam. Banyak di antara mereka yang mengadakan acara ritual keagamaan sebagai manifestasi rasa cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut.
Ikhwani fid-din yang dimuliakan Allah.
Kecintaan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa salam adalah perintah agama. Tetapi untuk mengekspresikan cinta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa salam tidak boleh kita lakukan menurut selera dan hawa nafsu kita sendiri. Sebab jika cinta Rasul shallallahu alaihi wa salam itu kita ekspresikan secara serampangan dan tanpa mengindahkan syariat agama maka bukannya pahala yang kita terima, tetapi malahan dapat menuai dosa.
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa salam, bahwasanya beliau shallallahu alaihi wa salam bersabda: “Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada orangtuanya, anaknya dan segenap umat manusia.” (Muttafaq Alaih).
Dengan mengacu pada hadits shahih di atas, dapat kita ambil poin-poin berikut ini: Kewajiban cinta kepada Rasul shallallahu alaihi wa salam, kenapa harus cinta Rasul shallallahu alaihi wa salam?, apa tanda-tanda cinta Rasul shallallahu alaihi wa salam?,
Pertama, Kewajiban Cinta Rasul shallallahu alaihi wa salam
Hadits shahih di atas adalah dalil tentang wajibnya mencintai Nabi shallallahu alaihi wa salam dengan kualitas cinta tertinggi. Yakni kecintaan yang benar-benar melekat di hati yang mengalahkan kecintaan kita terhadap apapun dan siapapun di dunia ini. Bahkan meskipun terhadap orang-orang yang paling dekat dengan kita, seperti anak-anak dan ibu bapak kita. Bahkan cinta Rasul shallallahu alaihi wa salam itu harus pula mengalahkan kecintaan kita terhadap diri kita sendiri.
Dalam Shahih Al-Bukhari diriwayatkan, Umar bin Khathab radhiallahu ‘anhu berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wa salam : “Sesungguhnya engkau wahai Rasulullah, adalah orang yang paling aku cintai daripada segala sesuatu selain diriku sendiri.” Nabi shallallahu alaihi wa salam bersabda, ‘Tidak, demi Dzat yang jiwaku ada di TanganNya, sehingga aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri’. Maka Umar berkata kepada beliau, ‘Sekarang ini engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.’ Maka Nabi shallallahu alaihi wa salam bersabda, Sekarang (telah sempurna kecintaanmu (imanmu) padaku) wahai Umar.”
Karena itu, barangsiapa yang kecintaannya kepada Nabi shallallahu alaihi wa salam belum sampai pada tingkat ini maka belumlah sempurna imannya, dan ia belum bisa merasakan manisnya iman hakiki sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Anas radhiallahu ‘anhu , dari Nabi shallallahu alaihi wa salam , beliau bersabda:
“Ada tiga perkara yang bila seseorang memilikinya, niscaya akan merasakan manisnya iman, ‘Yaitu, kecintaannya pada Allah dan RasulNya lebih dari cintanya kepada selain keduanya……”
Ikhwani fid-din yang dimuliakan Allah.
Kedua, Mengapa kita harus mencintai Rasul shallallahu alaihi wa salam?
Tidak akan mencapai derajat kecintaan kepada Rasul shallallahu alaihi wa salam secara sempurna kecuali orang yang mengagungkan urusan din (agama)nya, yang keinginan utamanya adalah merealisasikan tujuan hidup, yakni beribadah kepada Allah Ta’ala. Dan selalu mengutamakan akhirat daripada dunia dan perhiasannya.
Cinta Rasul shallallahu alaihi wa salam inilah dengan izin Allah menjadi sebab bagi kita mendapatkan hidayah (petunjuk) kepada agama yang lurus. Karena cinta Rasul pula, Allah menyelamatkan kita dari Neraka, serta dengan mengikuti beliau shallallahu alaihi wa salam, kita akan mendapatkan keselamatan dan kemenangan di akhirat.
Adapun cinta keluarga, isteri dan anak-anak maka ini adalah jenis cinta duniawi. Sebab cinta itu lahir karena mereka memperoleh kasih sayang dan manfaat materi. Cinta itu akan sirna dengan sendirinya saat datangnya Hari Kiamat. Yakni hari di mana setiap orang berlari dari saudara, ibu, bapak, isteri dan anak-anaknya karena sibuk dengan urusannya sendiri. Dan barangsiapa lebih mengagungkan cinta dan hawa nafsunya kepada isteri, anak-anak dan harta benda duniawi maka cintanya ini akan bisa mengalahkan kecintaannya kepada para ahli agama, utamanya Rasul shallallahu alaihi wa salam .
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ الله لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرّحِيْمُ
[KHUTBAH KEDUA]
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
Ketiga, tanda-tanda Cinta Rasul shallallahu alaihi wa salam
Cinta Nabi shallallahu alaihi wa salam tidaklah berupa kecenderungan sentimentil dan romantisme pada saat-saat khusus, misalnya dengan peringatan-peringatan tertentu. Cinta itu haruslah benar-benar murni dari lubuk hati seorang mukmin dan senantiasa terpatri di hati. Sebab dengan cinta itulah hatinya menjadi hidup, melahirkan amal shalih dan menahan dirinya dari kejahatan dan dosa.
Ikhwani fid-din yang dimuliakan Allah.
Adapun tanda-tanda cinta sejati kepada Rasul shallallahu alaihi wa salam adalah:
Menaati beliau shallallahu alaihi wa salam dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Pecinta sejati Rasul shallallahu alaihi wa salam manakala mendengar Nabi shallallahu alaihi wa salam memerintahkan sesuatu akan segera menunaikannya. Ia tak akan meninggalkannya meskipun itu bertentangan dengan keinginan dan hawa nafsunya. Ia juga tidak akan mendahulukan ketaatannya kepada isteri, anak, orang tua atau adat kaumnya. Sebab kecintaannya kepada Nabi shallallahu alaihi wa salam lebih dari segala-galanya. Dan memang, pecinta sejati akan patuh kepada yang dicintainya.
Adapun orang yang dengan mudahnya menyalahi dan meninggalkan perintah-perintah Nabi shallallahu alaihi wa salam serta menerjang berbagai kemungkaran maka pada dasarnya dia jauh lebih mencintai dirinya sendiri. Sehingga kita saksikan dengan mudahnya ia meninggalkan shalat lima waktu, padahal Nabi shallallahu alaihi wa salam sangat mengagungkan perkara shalat, hingga ia diwasiatkan pada detik-detik akhir sakaratul mautnya. Dan orang jenis ini, akan dengan ringan pula melakukan berbagai larangan agama lainnya. Na’udzubillah min dzalik.
Menolong dan mengagungkan beliau shallallahu alaihi wa salam. Dan ini telah dilakukan oleh para sahabat sesudah beliau wafat. Yakni dengan menyosialisasikan, menyebarkan dan mengagungkan sunnah-sunnahnya di tengah-tengah kehidupan umat manusia, betapapun tantangan dan resiko yang dihadapinya.
Tidak menerima sesuatupun perintah dan larangan kecuali melalui beliau shallallahu alaihi wa salam, rela dengan apa yang beliau tetapkan, serta tidak merasa sempit dada dengan sesuatu pun dari sunnahnya. Adapun selain beliau, hingga para ulama dan shalihin maka mereka adalah pengikut Nabi shallallahu alaihi wa salam.Tidak seorang pun dari mereka boleh diterima perintah atau larangannya kecuali berdasarkan apa yang datang dari Nabi shallallahu alaihi wa salam.
Mengikuti beliau shallallahu alaihi wa salam dalam segala halnya. Dalam hal shalat, wudhu, makan, tidur dsb. Juga berakhlak dengan akhlak beliau shallallahu alaihi wa salam dalam kasih sayangnya, rendah hatinya, kedermawanannya, kesabaran dan zuhudnya dsb.
Memperbanyak mengingat dan shalawat atas beliau shallallahu alaihi wa salam. Mengharapkan bisa mimpi melihat beliau, betapapun harga yang harus dibayar. Dalam hal shalawat Nabi shallallahu alaihi wa salam bersabda:
“Barangsiapa bershalawat atasku sekali, niscaya Allah bershalawat atasnya sepuluh kali.” (HR. Muslim).
Adapun bentuk shalawat atas Nabi shallallahu alaihi wa salam adalah sebagaimana yang beliau ajarkan. Salah seorang sahabat bertanya tentang bentuk shalawat tersebut, beliau menjawab: “Ucapkanlah:
( Ya Allah, bershalawatlah atas Muhammad dan keluarga Muhammad).” (HR. Al-Bukhari No. 6118, Muslim No. 858).
Mencintai orang-orang yang dicintai Nabi shallallahu alaihi wa salam. Seperti Abu Bakar, Umar, Aisyah, Ali radhiallahu ‘anhum dan segenap orang-orang yang disebutkan hadits bahwa beliau shallallahu alaihi wa salam mencintai mereka. Kita harus mencintai orang yang dicintai beliau dan membenci orang yang dibenci beliau shallallahu alaihi wa salam. Lebih dari itu, hendaknya kita mencintai segala sesuatu yang dicintai Nabi, termasuk ucapan, perbuatan dan sesuatu lainnya.
Ikhwani fid-din yang dimuliakan Allah.
Mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan menaati beliau, sabar dalam menghidupkan sunnah-sunnahnya, mengikuti beliau dalam segala hal, mencintai beliau dan orang-orang yang dicintainya dan bershalawat kepadanya. Mencintai beliau bukanlah dengan melakukan aktifitas, perayaan-perayaan khusus yang sama sekali tidak pernah beliau ajarkan, sebab hal itu sama saja dengan menyelisihi perintah dan ketetapannya yang pada akhirnya dapat menyebabkan dosa dan maksiat kepadanya.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan kepada kita keimanan dan rasa cinta yang tinggi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga segala apa yang telah beliau tetapkan dapat kita terima dan laksanakan tanpa ada keberatan sedikitpun.
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّهُمّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنًاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنّكَ سَمِيْعٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ
رَبّنَا لاَتًؤَخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلىَ الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تُحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَنَا فَانْصُرْنَا عَلىَ الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
رَبّنَا آتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لله رَبّ الْعَالَمِيْنَ.
Sumber: http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkhutbah&id=272